Dua Sisi Agama: Vertikal dan Horizontal

Anakku,

Ada dua sisi dalam setiap sistem agama/keyakinan, yaitu sisi vertikal (ke atas) dan horizontal (ke samping). Yang pertama adalah yang berhubungan dengan Tuhan. Yang kedua berkaitan dengan hubungan kita dengan sesama manusia, masyarakat, dan semesta.

Dalam kehidupan, dua sisi itu sama-sama penting. Tetapi, dua sisi itu perlu diperlakukan berbeda.

Maksud Bapak begini.

Hubungan kita dengan Tuhan adalah hubungan yang sangat personal. Setiap agama/keyakinan punya doktrin tentang Tuhan. Doktrin dan keyakinan itu bisa saling berbeda, saling melengkapi, bahkan bisa bertentangan satu dengan lainnya.

Setiap orang juga memiliki pengalaman hidup yang berbeda yang mempengaruhi cara pandang mereka tentang Tuhan.

Semua itu sah-sah saja. Apalagi, Tuhan menyatakan bahwa “Dia melampaui segala yang diketahui dan disifatkan oleh manusia”. Jadi, segala pengetahuan, doktrin, kata-kata, dan pengalaman manusia hanya merupakan satu keping dan satu usaha saja untuk mendekati Tuhan. Tapi semua itu tidak menggambarkan Tuhan itu sendiri.

Karena sifatnya yang sangat personal, hubungan vertikal dengan Tuhan perlu diletakkan dalam ruang pribadi/privat. Biarlah Tuhan sendiri yang menilai kualitas kedekatan kita dengan-Nya. Kita bisa berbincang dan mendiskusikannya. Tetapi, kita tak perlu berbantah-bantahan, apalagi bertengkar dan berbunuh-bunuhan karenanya.

Anakku,

Aspek yang penting dari agama/keyakinan yang kedua adalah yang berhubungan dengan sesama dan semesta. Aspek ini biasa disebut dengan akhlak atau perilaku.

Dalam tata pergaulan di masyarakat, menurut Bapak, ini adalah yang paling penting karena akhlak adalah buah dari keyakinan dan pengajaran yang kalian jalani.

Akhlak bukan hanya perilaku lahir, seperti bersikap sopan. Akhlak jauh lebih dalam dari itu. Akhlak adalah sikap hidup yang benar. Akhlak berakar dari niat/hati yang benar, yang mendorong pikiran benar, yang melahirkan kata-kata benar, dan berbuah perbuatan yang benar.

Akhlak inilah yang selalu Bapak ajarkan kepada kalian. Selalu mempunyai niat baik, tak pernah sekalipun berniat buruk kepada orang lain; memikirkan hal-hal yang bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain; berkata baik walaupun dalam keadaan kecewa/marah, dan selalu bersikap adil kepada siapapun. Itu adalah contoh-contoh nasihat dan pengajaran yang kalian terima saat kecil.

Anakku,

Saat kalian kecil, Bapak sangat menekankan pengajaran tentang akhlak ini. Kalian belajar melalui contoh keseharian yang kalian lihat dalam keseharian. Kalian belajar dari nasihat, teguran, dan obrolan-obrolan kita.

Sementara itu, kita jarang berdiskusi tentang Tuhan. Kita jarang mengobrolkan tentang doktrin dan keyakinan-keyakinan yang kita yakini. Kalian hanya mendengar tentang Tuhan dari doa-doa yang kita lantunkan setiap hari dan senandung doa yang dinyanyikan Ibumu.

Mengapa? Karena menurut Bapak itu tak terlalu penting. Yang penting buat Bapak, jadilah kalian manusia yang paling bermanfaat bagi sesama karena itulah sebaik-baik manusia. 

Adapun pengalaman kebertuhanan kalian, biarlah kalian nanti menjalani dan mengalaminya sendiri. Nanti kalau kalian sudah lebih besar, kita bisa mengobrolkan tentang Tuhan dan jalan spiritual. Tapi untuk saat ini, yang paling penting adalah kalian menjadi anak yang baik.

Leave a Reply