Pemimpin yang Sederhana

Salah satu aspek kepemimpinan publik adalah mengirimkan sinyal kepada publik tentang nilai-nilai yang dianut dan ingin diperjuangkan oleh seorang pemimpin. Sinyal itu bersifat simbolik, tetapi penting.

Sinyal itu bisa berupa atribut fisik (pakaian, kendaraan, tempat tinggal, dll), orang/kelompok yang ditemuinya, komentar terhadap sebuah peristiwa/kelompok, dan tentu saja kebijakan-kebijakannya.

***

Walaupun bukan seorang Katolik dan tidak mengenal secara dekat, aku senang dan menyukai sosok Paus Francis berdasarkan sikap dan pernyataan-pernyataannya. Foto dan penjelasan berikut ini menunjukkan sinyal yang jelas tentang kesederhanaan beliau.

Paus-Francis

7 differences Pope Francis has made in one appearance.

1. Changed the golden throne by a wooden chair… Something more appropriate for the disciple of a carpenter.

2. Did not want the gold-embroidered red stole, Heir of the Roman Empire, nor the red chasuble.

3. Uses same old black shoes, not the classic red.

4. Uses a metal cross, not of rubies and diamonds.

5. His papal ring is silver, not gold.

6. Uses the same black pants under the cassock, to remember that he is a another priest.

7. Removed the red carpet. He is not interested in fame & applause.

Hidup yang Transparan

Anakku,

Salah satu bekal yang kuat untuk menjalani kehidupan adalah hidup yang transparan.

Bagaimana hidup yang transparan itu terjadi? Yaitu ketika kamu senantiasa menjaga kejujuran dalam hidupmu. Kepada dirimu kamu jujur, kepada sesama manusia kamu jujur, dan demikian pun kepada Tuhan. Kamu hidup apa adanya, dengan segala kebaikan yang selalu kamu usahakan dan segala kekurangan yang kamu perbaiki.

Hidup yang transparan adalah hidup yang membahagiakan. Tak ada yang ditakuti dan dikhawatirkan. Tak ada yang bisa mengancam untuk membongkar kegelapan yang ada dalam dirimu karena semua yang ada dalam dirimu adalah terang.

Ada dua hal yang seringkali membuat seseorang kehilangan transparansi dalam hidupnya. Yang pertama adalah niat & kepentingan yang disembunyikan. Yang kedua adalah dosa & kesalahan yang pernah dilakukan.

Oleh karena itu, hal yang perlu kamu pastikan dalam hidupmu dan tak boleh kamu kompromikan dengan apapun adalah bahwa kamu selalu memiliki niat yang benar. Kamu selalu memiliki niat yang baik. Kamu sama sekali tak punya niat buruk kepada siapapun dan untuk apapun.

Niat yang baik adalah penyelamat untuk problem yang kedua, dosa & kesalahan. Sebab, setiap manusia tak pernah bisa lepas sama sekali dari dosa dan kesalahan. Bukan berarti ini adalah pembenaran terhadap dosa dan kesalahan, tetapi dosa & kesalahan yang dilakukan tanpa niat buruk memiliki beban yang lebih ringan daripada yang memang sengaja dilakukan dengan niat jahat.

Nah, berbicara tentang dosa & kesalahan, inilah yang seringkali ditakuti manusia. Manusia ingin selalu kelihatan mulia dan tak ingin terlihat buruk, sehingga sangat menakuti terungkapnya dosa dan kesalahan yang dilakukannya. Manusia takut menerima konsekuensi atas dosa dan kesalahan yang dilakukannya.

Padahal, mengakui dan memperbaiki dosa & kesalahan jauh lebih mudah daripada menutupi dan menyangkalnya. Kegelapan (Iblis) senang menggunakan doa & kesalahan sebagai sarana untuk menakut-nakuti manusia.

Oleh karena itu, didiklah dirimu untuk berani mengakui dosa & kesalahan, bermohon ampun kepada Tuhan, dan memperbaiki kesalahan yang sudah pernah kamu lakukan.

Jika kamu konsisten dengan dua jalan ini: niat yang murni & kejujuran, pintu kebahagiaan terbuka sangat lebar bagimu.

 

 

Menjadi Manusia yang Bermanfaat

Anakku,

Hidup yang dikaruniakan Tuhan ini adalah berkah besar yang harus disyukuri. Banyak sekali karunia-Nya yang terlimpah. Banyak sekali kasih sayang-Nya yang tercurah.

Adalah tugas hidupmu untuk menjadi pemimpin yang baik, bagi hidupmu, keluargamu, sekitarmu, dan kehidupan ini.

Adalah tugas spiritualmu untuk menjadikan bumi dan semesta ini menjadi tempat yang nyaman bagi seluruh anak-anak Tuhan dari berbagai keyakinan agar dapat beribadah dan terhubung dengan-Nya.

Adalah tugas sosialmu untuk membangun bumi ini agar menjadi tempat tinggal yang aman dan nyaman, yang selalu tumbuh dan berkembang untuk kebaikan bersama.

Adalah tugas pribadimu untuk mengeluarkan potensi yang dikaruniakan Tuhan kepada dirimu dan memanfaatkannya untuk kebajikan bersama dan semesta-Nya.

Jadilah manusia yang bermanfaat bagi sesama dan semesta. Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat hidupnya.

Dua Sisi Agama: Vertikal dan Horizontal

Anakku,

Ada dua sisi dalam setiap sistem agama/keyakinan, yaitu sisi vertikal (ke atas) dan horizontal (ke samping). Yang pertama adalah yang berhubungan dengan Tuhan. Yang kedua berkaitan dengan hubungan kita dengan sesama manusia, masyarakat, dan semesta.

Dalam kehidupan, dua sisi itu sama-sama penting. Tetapi, dua sisi itu perlu diperlakukan berbeda.

Maksud Bapak begini.

Hubungan kita dengan Tuhan adalah hubungan yang sangat personal. Setiap agama/keyakinan punya doktrin tentang Tuhan. Doktrin dan keyakinan itu bisa saling berbeda, saling melengkapi, bahkan bisa bertentangan satu dengan lainnya.

Setiap orang juga memiliki pengalaman hidup yang berbeda yang mempengaruhi cara pandang mereka tentang Tuhan.

Semua itu sah-sah saja. Apalagi, Tuhan menyatakan bahwa “Dia melampaui segala yang diketahui dan disifatkan oleh manusia”. Jadi, segala pengetahuan, doktrin, kata-kata, dan pengalaman manusia hanya merupakan satu keping dan satu usaha saja untuk mendekati Tuhan. Tapi semua itu tidak menggambarkan Tuhan itu sendiri.

Karena sifatnya yang sangat personal, hubungan vertikal dengan Tuhan perlu diletakkan dalam ruang pribadi/privat. Biarlah Tuhan sendiri yang menilai kualitas kedekatan kita dengan-Nya. Kita bisa berbincang dan mendiskusikannya. Tetapi, kita tak perlu berbantah-bantahan, apalagi bertengkar dan berbunuh-bunuhan karenanya.

Anakku,

Aspek yang penting dari agama/keyakinan yang kedua adalah yang berhubungan dengan sesama dan semesta. Aspek ini biasa disebut dengan akhlak atau perilaku.

Dalam tata pergaulan di masyarakat, menurut Bapak, ini adalah yang paling penting karena akhlak adalah buah dari keyakinan dan pengajaran yang kalian jalani.

Akhlak bukan hanya perilaku lahir, seperti bersikap sopan. Akhlak jauh lebih dalam dari itu. Akhlak adalah sikap hidup yang benar. Akhlak berakar dari niat/hati yang benar, yang mendorong pikiran benar, yang melahirkan kata-kata benar, dan berbuah perbuatan yang benar.

Akhlak inilah yang selalu Bapak ajarkan kepada kalian. Selalu mempunyai niat baik, tak pernah sekalipun berniat buruk kepada orang lain; memikirkan hal-hal yang bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain; berkata baik walaupun dalam keadaan kecewa/marah, dan selalu bersikap adil kepada siapapun. Itu adalah contoh-contoh nasihat dan pengajaran yang kalian terima saat kecil.

Anakku,

Saat kalian kecil, Bapak sangat menekankan pengajaran tentang akhlak ini. Kalian belajar melalui contoh keseharian yang kalian lihat dalam keseharian. Kalian belajar dari nasihat, teguran, dan obrolan-obrolan kita.

Sementara itu, kita jarang berdiskusi tentang Tuhan. Kita jarang mengobrolkan tentang doktrin dan keyakinan-keyakinan yang kita yakini. Kalian hanya mendengar tentang Tuhan dari doa-doa yang kita lantunkan setiap hari dan senandung doa yang dinyanyikan Ibumu.

Mengapa? Karena menurut Bapak itu tak terlalu penting. Yang penting buat Bapak, jadilah kalian manusia yang paling bermanfaat bagi sesama karena itulah sebaik-baik manusia. 

Adapun pengalaman kebertuhanan kalian, biarlah kalian nanti menjalani dan mengalaminya sendiri. Nanti kalau kalian sudah lebih besar, kita bisa mengobrolkan tentang Tuhan dan jalan spiritual. Tapi untuk saat ini, yang paling penting adalah kalian menjadi anak yang baik.

Mengapa orang bertanya tentang agama?

Anakku,

Kalian mungkin heran dan bertanya-tanya, mengapa kalian begitu sering ditanya apa agama kalian? Di kolam renang, di tempat kursus, di tempat main, dan sebagainya. Mengapa teman-teman kalian sering menanyakan hal itu, padahal kalian tidak sedang membicarakan tentang agama?

Bapak sendiri tidak tahu pasti mengapa hal itu terjadi. Ada orang yang mengajukan pertanyaan itu karena iseng. Mereka tak sungguh-sungguh ingin mengetahui jawabannya. Mereka cuma pengin tahu saja. Kalau kalian menjawab dengan senyum, mereka juga tak apa-apa.

Tapi ada mungkin ada juga yang pengin tahu beneran. Yang pengin tahu beneran itu mungkin karena keingintahuannya tinggi. Mereka mungkin diajarkan pengetahuan tentang berbagai agama oleh orangtuanya atau di sekolahnya dan mereka ingin menguji apakah yang mereka temui itu sama dengan pengetahuan yang mereka pelajari. Mereka mungkin diajari untuk menyikapi orang lain sesuai dengan agama dan keyakinannya.

Mengenai pertanyaan tentang agama itu, kalian perlu mengetahui bahwa di tempat lain ada orang-orang yang bersikap berbeda. Mereka tak menanyakan agama dan keyakinan orang lain yang ditemuinya. Mereka menganggap pertanyaan seperti itu tak sopan. Mereka menganggap agama dan keyakinan adalah urusan pribadi dan bukan untuk didiskusikan secara terbuka, apalagi diperbanding-bandingkan mana yang lebih baik dan benar.

Pertanyaan tentang agama itu baru boleh diajukan kalau ada hal yang khusus dan benar-benar berkaitan, bukan iseng atau sekedar ingin tahu. Misalnya, kalian ingin mengucapkan selamat hari raya agama tertentu dan kalian ingin memastikan bahwa teman kalian memang merayakannya, maka kalian boleh bertanya tentang agamanya. Atau, kalian ingin mengetahuinya supaya kalian bisa memperlakukan teman kalian dengan baik.

Untuk kalian anak-anakku. Bapak menyarankan kalian untuk tak bertanya tentang agama teman-temanmu kecuali jika memang sangat perlu.Misalnya, kalian kedatangan tamu dan kalian ingin menjamu dengan hidangan tertentu. Tak ada salahnya jika kalian bertanya makanan apa yang terlarang menurut aturan agama mereka. Itu adalah bagian dari penghormatan.

Secara umu, menanyakan agama seseorang itu tak perlu dilakukan. Mengapa? Karena kita memperlakukan semua orang sama, tak memandang agama, suku, dan latar belakangnya. Kita memperlakukan orang lain sebagai sesama manusia, yang layak diperlakukan dengan hormat dan sama, walaupun kita mungkin berbeda.

Tapi terkadang pembicaraan tentang agama ini tak terelakkan. Yang penting kalian jaga ketika membicarakan agama dan keyakinan dengan temanmu adalah menjaga sikap hormat. Kalian boleh bertanya, tapi tak boleh mempertanyakannya.

Apa beda bertanya dan mempertanyakan?

Bertanya adalah menggali informasi atau pengetahuan. Mempertanyakan adalah menilai keyakinan orang lain berdasarkan ukuran-ukuran kebenaran yang ada dalam keyakinanmu. Nah, yang kedua itu terlarang bagimu.

Hal kedua yang perlu kalian jaga saat memperbincangkan agama dan keyakinan adalah suasana. Kalau suasananya santai dan sehat, maka jalanilah. Berbeda pendapat dalam suasana yang baik tak menjadi apa. Tapi kalau ada emosi, kemarahan, atau penghujatan, maka hentikanlah. Diskusi tentang agama dan keyakinan yang membawa emosi tak akan menghasilkan manfaat apa-apa. Jika itu yang terjadi, maka hentikanlah, bicarakanlah hal yang lain, atau tinggalkanlah.

 

Awal mula

Anakku,

Setiap hal selalu memiliki awal mula. Demikian pula catatan-catatan ini.

Adalah bapak yang melihat kalian, anak-anakku, yang tumbuh semakin besar. Dan seiring pertumbuhan kalian dan interaksi kalian dengan teman-temanmu di luar rumah, kalian mulai mendapati pertanyaan-pertanyaan:

  • Apa agamamu?
  • Apa kitab sucimu?
  • Bagaimana cara kamu beribadah?

Bapak mendengar kalian bercerita tentang teman-teman kalian yang melontarkan pertanyaan-pertanyaan semacam itu di kolam renang, tempat les, saat ketemuan, bahkan saat kalian chatting dengan teman baru kalian.

Bapak bahagia melihat cara kalian menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari temanmu. Walaupun kalian mungkin terkadang merasa bingung bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam itu, tetapi kalian tetap tersenyum dan hati kalian lapang. Kalian tak marah. Dan kalian pun tak malu dengan apa yang kalian jalani sebagai anak bapak.

Dan kalian lihat? Kalau kalian bersikap baik, maka orang lain pun bersikap baik kepada kalian. Nah, itu hal paling penting untuk kalian jalani saat ini. Siapa yang berbuat baik, maka dia akan menuai hal baik. Tak peduli apapun agama dan keyakinannya.

***

Anakku,

Walaupun bapak selalu menasihatkan kalian untuk bersikap baik kepada siapapun dan tak perlu terlalu serius menanggapi pertanyaan teman-temanmu tentang agama, tapi bapak merasa punya kewajiban untuk meninggalkan sesuatu untuk kalian. Sebagai anak bapak, kalian punya hak untuk mengetahui perjalanan hidup yang berhubungan dengan keyakinan dan kemudian menjadi keyakinan yang kalian jalani.

Untuk itulah bapak menulis. Dan inilah awal perjalanan menulis bapak untuk kalian.